
Gejolak emosi wajar dialami ibu hamil. Tentu saja asal tak berlebihan. Penyebabnya antara lain karena perubahan sejumlah hormon di dalam tubuh yang sedang menyiapkan berbagai fasilitas bagi janin yang sedang tumbuh. Emosi ibu hamil akan berubah-ubah sejalan dengan pertambahan usia kandungan.
Trismester 1 : serba khawatir
Para calon ibu umumnya dibayangi rasa takut terhadap kemungkinan terjadinya keguguran. Calon ibu juga dihantui perasaan cemas yang berlebihan akan kondisi janinnya. Apalagi jika ini adalah kehamilan pertama.
Bermacam perasaan ini membuat para ibu hamil, merasa seperti terkucil dari lingkungan. Bisa jadi anda merasa tertekan karena keinginan anda untuk terus membicarakan masalah yang berhubungan dengan kehamilan anda sering berbeda dengan topik pembicaraan orang - orang sekitar. Jadi bergabunglah dengan kelompok para calon ibu. Keinginan anda untuk bertukar pikiran dan perasaan pasti akan terpuaskan.
Seringkali, gejola emosi tersebut merupakan suatu keinginan untuk lebih diperhatikan orang - orang di sekitarnya, terutama suami tercinta. Hal yang wajar, namun, bila perubahan emosi yang dialami sudah masuk ke tahap depresi, maka sebaiknya waspada. Karena stres akan menyebabkan pembuluh darah di rahim mengerut, sehingga aliran darah ke rahim pun berkurang. Ini bisa menyebabkan aliran darah ibu ke janin berkurang dan janin pun menerima lebih sedikit oksigen dan nutrisi.
Ibu yang stres, atau bahkan depresi, akan meningkatkan hormon stres dan aktivitas otak janin. Akibatnya ketika lahir, si kecil pun menunjukkan gejala depresi, misalnya hiperaktif atau hipoaktif, temperamental atau tidak memiliki kontrol diri yang baik. Jadi segeralah mencari pertolongan dokter atau psikolog, bila selama lebih dari 2 minggu anda merasa sangat tertekan, atau seakan - akan kehilangan semangat menjalani kehamilan.
Trismester 2 : bahagia
Memasuki bulan ke - 4, perasaan cemas dan khawatir umumnya berangsur - angsur hilang. Kini berganti perasaan sangat bahagia saat anda mulai merasakan gerakan janin.
Di lain pihak, perhatian penuh dari pasangan sejak awal kehamilan, akan membuat calon ibu semakin merasa bergantung kepada suami. Tak heran, bila sedikit saja suami mengabaikan istrinya yang sedang hamil, muncul rasa khawatir dalam diri sang istri. Perasaan khawatir ditinggal pasangan itu sebetulnya karena calon ibu merasa tidak percaya diri dengan penampilan atau bentuk tubuhnya saat ini. Padahal, banyak suami yang berpendapat istrinya justru semakin cantik, seksi dan memikat ketika sedang hamil. Maka tak ada salahnya pada trimester ini anda mulai mengenakan gaun -gaun hamil yang cantik dan seksi.
Sejalan dengan perasaan bahagia dengan kehamilannya ini, emosi dan rasa percaya diri kembali stabil. Itu sebabnya banyak ibu hamil yang dapat menikmati kembali hubungan intim pada masa ini.
Trismester 3 : sering melamun
Biasanya 3 bulan terakhir ini dirasakan sebagai bulan - bulan penuh suka cita. Janin di dalam kandungan anda dianggap sudah cukup kuat dan matang, sehingga rasa khawatir akan kemungkinan terjadinya keguguran sudah makin kecil.
Namun tidak sedikit ibu hamil yang masih dianggu perasaan gelisah. Calon ibu kerap melamun dan berimajinasi, umumnya karena kekhawatiran akan peran barunya kelak dan kemampuannya untuk menjadi ibu yang baik.
Tidak sedikit calon ibu yang dilanda letih dan jenuh dengan kehamilannya. Konflik yang sering terjadi berkisar dengan keinginan yang sangat besar untuk segera bebas dari kehamilan, sekaligus perasaan takut menghadapi proses persalinan. Tak perlu khawatir karena yang anda rasakan ini hampir dialami setiap calon ibu. Bahkan, tidak sedikit ibu yang yang tengah menjalani kehamilan ke 2 maupun ke - 3, masih di hantui oleh perasaan seperti itu. Hanya saja memang tidak sehebat yang dirasakan calon ibu pertama.
Pada bulan ke - 9, sebagian ibu hamil sudah mulai bisa mengatasi rasa takutnya menghadapi proses persalinan. Namun, bukan tidak mungkin pertanyaan dari orang - orang sekitar tentang kapan saatnya melahirkan, mengingatkannya kembali pada kecemasan dan ketakutan dalam menjalani proses persalinan. Tak heran, bila menjelang hari persalinan, banyak ibu hamil yang tampak kelelahan, tidak bersemangat, dan mudah tersinggung.
Untuk mengatasi semua itu, biasakan semua berpikir positif dan sadarilah bahwa semua yang Anda rasakan dan jalani hanyalah bersifat sementara. Sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi rasa takut ini, tentu tak lupa berserah diri kepada sang pencipta.
Emosi yang bergejolak ibarat rollercoaster selama masa kehamilan ini, tidak selamanya di monopoli ibu hamil. Tidak sedikit suami yang ikut mengalami berbagai perasaan tidak menentu selama istrinya hamil. Biasanya, kondisi ini dialami mereka yang baru pertama kali yang akan terjadi ayah. Para calon ayah ini mengalami gajala - gejala yang mirip dengan yang dialami istrinya. Misalnya, kram kaki, mual-mual, bahkan ngidam. Berbagai gejala yang dialami calon ayah ini disebut sympathetic pregnancy symptom atau ekspresi kecemasan suami terhadap kehamilan sang istrinya.
Semua kondisi itu berawal dari perasaan cemas yang dialami calon ayah terhadap kehamilan istrinya. Tiga kecemasan utamanya adalah:
Takut kelak tak mampu berperan sebagai ayah yang baik.
Cemas terhadap kondisi fisik istri dan janinnya.
Khawatir peran baru yang akan disandangnya mengganggu keharmonisan hubungan dengan sang istri.
Untuk mengatasi berbagai kecemasan tersebut, calon ayah dan calon ibu sebaiknya saling berbagi perasaan, serta menjalin komunikasi terbuka.
sumber: info-sehat.com
Jumat, April 24, 2009
Gejolak Emosi Calon Ibu
Diposting oleh restu nugraha di 06.09
Label: info sehat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar